Jumat, 16 Desember 2011

Model Konseptual Dalam Asuhan Kebidanan

MODEL KONSEPTUAL DALAM ASUHAN KEBIDANAN
Konseptual  Model Kebidanan
Konseptual Model
Model dalam kebidanan berdasarkan pada 4 elemen:

PARADIGMA SEHAT DAN MIDWIFERY CARE
A.        Paradigma Sehat
Derajat kesehatan di Indonesia masih rendah, hal ini menuntut adanya upaya untuk menurunkannya.Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan, pemerintah membuat satu model dalam pembangunan kesehatan yaitu PARADIGMA SEHAT. Paradigma Sehat ini pertama kali dicetuskan oleh Prof. Dr.F.A Moeloek (Menkes RI) pada rapat sidang DPR Komisi VI pada tanggal 15 September 1998.
Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang melihat masalah kesehatan saling berkait dan mempengaruhi dengan banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan.
Secara MAKRO dengan adanya Paradigma sehat berarti pembangunan semua sektor harus memperhatikan dampaknya dibidang kesehatan. Secara MIKRO dengan adanya Paradigma sehat maka Pembangunan kesehatan lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif.
Paradigma Sehat ini sangat penting karena :
Paradigma Sehat ini merupakan model dalam pembangunan kesehatan tetapi juga dijadikan model dalam Asuhan Kebidanan, hal ini karena :
Paradigma sehat dikatakan sebagai suatu perubahan sikap, orientasi atau MindSet, Beberapa pandangan yang berubah menjadi Paradigma Sehat, yaitu :
Pada hakekatnya sehat atau kesehatan dapat diartikan sebagai kondisi yang normal dari kehidupan manusia. Sehat atau kesehatan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang sudah dengan sendirinya begitu. Sehat merupakan suatu keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial, dan spiritual.
Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki
Sehat adalah keadaan yang sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
            Batasan sehat menurut WHO yang mencakup keadaan fisik, mental dan sosial sering perlu ditambah dengan sehat spiritual.
            Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (WHO, 1974):
UU No. 23. 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Dalam pengertian yang paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial dan ekonomi). Dalam mempertahankan kesehatannya.
Sehat fisik diartikan sebagai kondisi badan yang serasi dengan tanda-tanda utama kulit yang bersih, mata yang bersinar, rambut yang subur, otot-otot bidan yang kuat, tidak terlalu gemuk, nafas yang segar, nafsu makan yang baik, tidur yang nyenyak, buang air besar dan kecil yang teratur, dan gerakan badan yang supel, mudah dan terkoordinasi, semua organ badan dalam ukuran yang sebanding dan berfungsi normal, semua alat indera berfungsi lengkap, denyut nadi dan tekanan darah dalam keadaan istirahat dan gerakan (exercise) ada dalam batas-batas normal menurut umur dan jenis kelamin. Pada usia anak dan remaja yang sedang tumbuh dan berkembang, berat dan tinggi badan akan bertambah sampai mencapai ukuran dewasa pada umur ± 25 tahun.

Dalam badan yang sehat terletak jiwa yang kuat. Sehat fisik dan mental adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat dikatakan sehat mental, yaitu :

Sehat sosial menekankan pada kemampuan untuk hidup bersama dengan masyarakat dilingkungannya dengan penuh rasa kebersamaan, tolong – menolong, saling menghormati dan saling menghargai. Hidup bersama ini untuk saling memenuhi kebutuhan hidup yang menunjang kesehatan itu sendiri.

Manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan berakal akan merasakan ketidaklengkapan cara hidupnya tanpa pegangan kepada sesuatu yang bukan fisik, mental atau sosial, tapi supernatural. Sehat secara spiritual adalah penting untuk masyarakat Indonesia yang ajaran hidupnya adalah Pancasila, dimana sila pertamanya adalah ketuhanan yang maha esa.

Menurut Neuman (1990) menyatakan bahwa :
Sehat adalah suatu rentang yang merupakan tingkat kesejahteraan klien pada waktu tertentu, yang terdapat dalam rentang dan kondisi sejahtera yang optimal, dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian yang menandakan habisnya energi total.
Jadi menurut model ini sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus-menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat.
Dengan model ini bidan dapat menentukan tingkat kesehatan klien  sesuai dengan rentang sehatnya, sehingga faktor risiko klien yang merupakan faktor penting untuk diperhatikan dalam mengidentifikasikan tingkat kesehatan klien. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi variabel genetik dan psikologis. Kekurangan dari model ini adalah sulitn ya menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang itu ( kesejahteraan tingkat tinggi kematian). Misalnya, apakah seseorang yang mengalami fraktur kaki tapi ia mampu melakukan adaptasi dengan keterbatasan mobilitas.
Model ini efektif jika digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan saat ini dengan tingkat kesejahteraan sebelumnya. Sehingga bermanfaat bagi bidan dalam menentukan tujuan pencapaian tingkat kesehatan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Model yang dikembangkan oleh Dunn (1977) ini berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada individu melalui perubahan prilaku. Model ini berhasil diterapkan untuk perawatan lansia, dan juga digunakan dalam perawatan keluarga dan kebidanan komunitas.


Menurut pendekatan model ini tingkat sehat dan sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan dinamis antara agen pejamu dan lingkungan. Model ini menyatakan bahwa sehat dan sakit ditentukan oleh interaksi yang dinamis dari ketiga variabel tersebut .


Model ini memberikan cara bagaimana klien akan berperilaku sehubungan dengan kesehatan mereka dan bagaimana mereka mematuhi terapi kesehatan yang diberikan.
Terdapat tiga komponen dari model Keyakinan-Kesehatan antara lain :
Model ini membantu bidan memahami berbagai faktor yang dapat mempengaruhi persepsi, keyakinan dan perilaku klien serta membantu bidan membuat rencana kebidanan yang paling efektif untuk membantu klien, memelihara dan mengembalikan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit.
Focus model ini adalah menjelaskan alasan keterlibatan klien dalam aktifitas kesehatan.
Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit merupakan dua konsep yang berhubungan serta pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang menjadi saling tumpang tindih satu sama lain.
Peningkatan kesehatan merupakan upaya memelihara atau memperbaiki tingkat kesehatan klien saat ini. Sedangkan penyakiy merupakan upaya yang bertujuan untuk melindungi klien dari ancaman kesehatan yang bersifat actual maupun sosial.





Kegiatan peningkatan kesehatan dapat bersifat aktif maupun pasif :
Merupakan strategi peningkatan kesehatan dimana individu akan memperoleh manfaat dari kegiatan yang dilakukan oleh orang lain tanpa harus melakukannya sendiri.
Pada strategi ini setiap individu diberikan motivasi untuk melakukan program kesehatan tertentu.
Cara pandang atau pola piker pembangunan kesehatan yang bersifat holistic, proaktif, antisifatif, melihat masalah kesehatan sebagai masalah yang dipengaruhi banyak faktor secara dinamis dan bersifat lintas sector dalam satu wilayah. Paradigm sehat merupakan model pembangunan kesehatan yang berorientasi pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan penduduk sehat dan bukan hanya penyembuhan pada orang sakit.
B.        Midwifery Care
Care dalam bahasa Inggris mempunyai arti Memelihara, Mengawasi, memperhatikan dengan sepenuhnya. Dihubungkan dengan kebidanan care disebut sebagai Asuhan.
Midwifery care ( Asuhan Kebidanan) adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa persalinan, nifas, bayi setelah lahir, serta keluarga berencana.
Asuahan kebidanan merupakan metode pemberian asuhan yang berbeda dengan model perawatan medis. Model asuhan kebidanan didasarkan pada prinsip-prinsip sayang ibu. Adapun prinsip-prinsip asuhan kebidanan adalah sebagai berikut:

Proses asuhan kebidanan adalah dinamis, tanggung jawab terhadap perubahan status kesehatan setiap wanita dan mengantisipasi masalah-masalah potensial sebelum terjadi. Para bidan melibatkan ibu dan keluarganya dalam asuhannya pada seluruh bagian dalam proses pengambilan keputusan, dan dalam pengembangan rencana asuhan kesehatan kehamilan dan pengalaman kehamilan.
                        Komponen-komponen asuhan kebidanan di Indonesia digariskan dalam “Kompotensi Bidan di Indonesia”. Kompotensi bidan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu yang pertama adalah kompetensi inti dasar merupakan kompetensi minimal yang mutlak pada seputar kehamilan dan kelahiran. Yang kedua adalah kompetensi tambahan lanjutan yang merupakan pengmbangan dari pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mendukung tugas bidan dalam memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat yang sangat dinamis serta perkembangan iptek. Asuhan kebidanan ini  termasuk pengawasan pelayanan kesehatan masyarakat di posyandu (tindakan dan pencegahan), penyuluhan dan pendidikan kesehatan reproduksi wanita, keluarga dan masyarakat, termasuk persiapan menjadi orang tua, menentukan pilihan KB, deteksi kondisi abnormal pada ibu dan bayi, usaha memperoleh pelayanan khusus bila diperlukan (konsultasi atau rujukan), dan pelaksanaan pertolongan kegawat-daruratan primer dan sekunder ketika tidak ada pertolongan medis.
            Ada lima aspek dasar dari kualitas asuhan yang harus dilakukan oleh bidan pada saat persalinan yang saling berkaitan, pada :
Asuhan sayang ibu amat membantu ibu dan keluarganya untuk merasa aman dan nyaman selama proses persalinan. Untuk memahami asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita “ Seperti Inikah Yang Ingin Saya Dapatkan?” termasuk juga asuhan sayang bayi.
Dalam member asuhan berkualitas tinggi, bidan harus melindungi pasien, diri sendiri, dan rekan kerjanya dari infeksi. Cara praktis, efektif dan ekonomis yaitu mencuci tangan, menggunakan sarung tangan, disinfeksi alat, dan pembuangna sampah yang aman.
Pengambilan keputusan klinik yang efektif adalah selama proses penatalaksanaan bidan.Dengan menggunakan manajemen proses kebidanan para bidan dapat mengumpulkan data secara sistematis, menginterpretasikan data dan membuat keputusan sesuai asuhan yang dibutuhkan pasien.
Dokumentasi memberikan catatan permanen mengenai manajemen pasien dan dapat merupakan pertukaran informasi dengan para petugas kesehatan yang lain. Pencatatan dibutuhkan olen Undang-Undang.
Rujukan pada intitusi yang tepat serta tepat waktu dimana asuhan yang dibutuhkan tersedia akan menyelamatkan nyawa ibu. Sangat penting bagi bidan untuk mengenali masalah, serta menentukan jika ia cukup terampil dalam menangani masalah tersebut, lalu merujuk ibu untuk mendapatkan pertolongan tepat waktu. Ketika merujuk harus diingat siapa, kapan, kemana, dan bagaimana merujuk agar bayi dan ibu tetap selamat.

            Organisasi bidan telah mengembangkan “ Kode Etik Profesi” sebagai pedoman. Salah satu contohnya adalah kode etik bidan internasional (internasional confederation of midwife code of ethics).
Kode etik praktik dan perilaku bidan harus dipakai untuk memfasilitasi alasan etis dan meningkatakan asuhan serta bukan untuk memberikan penilaian moral tentang perilakunya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar